Media Pembelajaran dan ICT
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu : Minsih, S.Pd, M.Pd
Disusun Oleh :
1.
Pradita Wisnu
Dwi Rahmawan (A510120171)
2.
Linda Feronika (A510120181)
3.
Luthfiah
Hidayati (A510120188)
4.
Riesdam Mahdi
Muhammad (A510120190)
5.
Citra Armelia (A510120193)
6.
Rochmat Tony
Prasetyo (A510120194)
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dunia pengajaran dan
pembelajaran memiliki peran yang sangat penting terhadap perkembangan
pendidikan, terutama bagi anak didik. Sebab, melalui pengajaran dan
pembelajaran itulah, proses pendidikan berlangsung. Karena itu, dunia
pendidikan menjadi signifikan untuk dicermati dan diperhatikan. Salah satunya
adalah dengan memahami tentang berbagai media pengajaran dan pembelajaran yang
digunakan dalam proses memberikan materi pengajaran kepada peserta didik.
Media pembelajaran
digunakan sebagai alat bantu untuk mempermudah dan membantu tugas guru dalam
menyampaikan berbagai bahan dan materi pelajaran, serta mengefektifkan dan
mengefisienkan anak didik dalam memahami materi dan bahan pelajaran tersebut.
Dengan adanya media pembelajaran, anak didik dapat belajar dengan mudah dan
merasa senang dalam mengikuti pelajaran. Biasanya, anak didik dapat dengan
mudah menangkap materi pelajaran bila pembelajaran yang diselenggarakan
tersebut menyenangkan.
Umumnya media
pembelajaran itu dikemas dengan cara yang menarik. Sedangkan penyajiannya
disampaikan secara menarik dan disesuaikan dengan karakteristik anak didik.
Sehingga anak didik akan dengan mudah mencerna pelajaran tersebut. Dengan
demikian, tujuan pembelajaran pun akan tercapai dengan efektif dan efisien.
Pembelajaran Bahasa
Indonesia merupakan pelajaran yang penting diajarkan di sekolah-sekolah, Bahasa
memegang peranan penting dalam kehidupan manusia karena bahasa merupakan alat
komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa, seseorang dapat
menyampaikan ide, pikiran, perasaan,
atau info kepada orang lain, baik secara lisan maupun secara tulisan.
(Iskandarwassid dan Sunendar, 2009:226).
Dalam menggunakan
bahasa, manusia harus terampil. Ketrampilan berbahasa terdidri dari empat
aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Di sekolah dasar pun,
siswa harus menguasai keempat aspek tersebut agak terampil berbahasa.
Ketrampilan menyimak merupakan kegiatan yang paling awal dilakukan oleh anak
manusia bila dilihat dari proses pemerolehan bahasa. Sebelum anak dapat
melakukan berbicara, membaca, apalagi menulis, kegiatan menyimaklah yang
pertama kali dilakukan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian media ?
2. Apa pengertian media pembelajaran?
3. Jenis-jenis media pembelajaran?
4. Fungsi media pembelajaran?
5. Pembelajaran bahasa Indonesia?
6. Konstribusi media pembelajaran bahasa Indonesia dalam meningkatkan
pembelajaran.
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam
penyusunan makalah ini diantaranya sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian media ?
2. Untuk mengetahui Apa pengertian media pembelajaran?
3. Untuk mengetahui Jenis-jenis media pembelajaran?
4. Untuk mengetahui Fungsi media pembelajaran?
5. Untuk mengetahui Pembelajaran bahasa Indonesia?
6. Untuk mengetahui Konstribusi media pembelajaran bahasa Indonesia dalam
meningkatkan pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Media
Kata media dalam media pembelajaran
secara harfiah berarti perantara atau pengantar, sedangkan kata pembelajaran
diartikan sebagai suatu kondisi yang diciptakan untuk membuat seseorang melakukan
kegiatan belajar. Dengan demikian media pembelajaran memberikan penekanan pada
posisi media sebagai wahana penyalur pesan atau informasi belajar untuk
mengkondisikan seseorang untuk belajar. Dengan kata lain, pada saat kegiatan
belajar berlangsung bahan belajar (learning
material) yang diterima siswa diperoleh dari media. Hal ini sesuai dengan
pendapat Lesle J.Briggs (1979) yang menyatakan bahwa media pembelajaran sebagai
“ the physical means of conveying
instructional content..book, films videotapes, etc. Lebih jauh Briggs
menyatakan media adalah “ alat untuk member
perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar. Sedangkan mengenai
efektifitas media, Brown ( 1970 ) menggaris bawahi bahwa media yang digunakan
guru atau siswa dengan baik dapat mempengaruhi efektifitas proses belajar dan
mengajar (Asra dkk, 2007 : 5-5 ).
Istilah media sering dibedakan
dengan alat peraga, tetapi ada juga yang menganggap sama, sehingga satu benda
terkadang disebut media tetapi juga disebut alat peraga. Sebetulnya perbedaan
antara keduanya hanyalah pada fungsi, bukan pada substansi maupun bendanya
sendiri. Sesuatu disebut alat peraga bila fungsinya hanya sebagai alat bantu
belaka, dan disebut media bila merupakan bagian integral dari seluruh kegiatan
pembelajaran, serta ada pembagian tanggung jawab antyara guru disatu pihak dan
media di pihak lain ( Anitah 2008:12 ).
Istilah yang masih berkait dengan
media adalah sumber belajar. Sumber belajar adalah orang yang dapat dijadikan
tempat bertanya tentang berbagai pengetahuan ( Alwi, 2002 : 1102 ). Pengertian
ini sudah tidak lagi sesuai dengan paradigma pembelajaran sekarang yang
menggunakan sumber dari berbagai sumber belajar bukan tidak hanya berupa orang.
B.
Pengertian Media Pembelajaran
Istilah
media pembelajaran berdekatan dengan istilah istilah yang lain, yaitu : sarana,
prasarana, alat eraga, alat bantu dan sumber belajar. Istilah – istilah ini
memang secara konseptual bisa dibedakan, tetappi didalam proses pembelajaran
istilah-istilah ini sering memiliki pesan yang tumpang tindih bahkan sulit
dibedakan. Kata media berasal dari Bahasa Latin yakni Medius yang secara harfiahnya berarti tengah, pengantar, atau
perantara ( Munadi, 2008 : 6 ). Kata tengah berarti berada diantara dua sisi,
maka bisa disebut sebagai perantara antar kedua sisi. Karena posisinya berada
di tengah, media juga bisa disebut sebagai pengantar, penyalur, atau penghubung
yakni yang m,enghubungkan atau mengantarkan atau menyalurkan dari satu sisi ke
sisi yang lain. pendapat seperti ini juga dikemukakan oleh Bretz ( Dalam Anitah
,2008 : 10 ) Bahwa media adalah sesuatu yang terletak di tengah tengah, jadi
suatu perantara. Berdasarkan pengertian ini, maka media dapat dikatakan sebagai
perantara pesan. Berdasarkan beberapa pendapat itu dapat dikatakan, secara
harfiah media adalah sesuatu yang mengantarkan pesan pembelajaran antara
pemberi pesan kepada penerima pesan.
Beberapa
definisi tentang media pembelajaran dipaparkan sebagai berikut :
1.
Media adalah
grafik, fotografi, elektnonik atau alat – alat mekanik untuk menyajikan,
memproses, menjelaskan informasi lisan atau visual ( Gerlach dan Ely dalam
Anitah, 2008 : 11 ).
2.
Media
pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan
pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan berlajar yang
kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan
efektif ( Munadi, 2008 : 8 ).
3.
Media adalah
setiap orang , bahan, alat, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang
memungkinkan pebelajar untuk menerima pengetahuan, ketrampilan dan sikap (
Anitah, 2008 : 11 ).
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapatlah ditarik suatu
simpulan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menjadi
perantara pesan dalam proses belajar mengajar dari sumber informasi kepada
penerima informasi sehingga terjadi prosese belajar yang kondusif. Kata media
merupakan bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat didefinisikan sebagai
perantara atau pengatur terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima (
Heinich et.al., 2002 ; Ibrahim, 1997
; Ibrahim et.al., 2001 ). Media
merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari
komunikator menuju komunikan ( Crititos, 1996 ). Berdasarkan definisi tersebut,
dapat dikatakan bahwa media pembelajaran merupakan sarana pelantara dalam
proses pembelajaran. Oleh karena prosesd pembelajaran merupakan proses
komunikasi dan berlangsung dalam suatu sisitem maka media pembelajaran
menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen system
pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses
pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara
optimal. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem pembelajaran.
Batasan lain telah pula dikemukakan oleh para ahli yang sebagian
diantaranya akan diberikan berikut ini. AECT (Association of Education and
Communication Technology,1977) member batasan tentang media sebagai segala
bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi.
Diseamping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media yang sering diganti
dengan kata mediator merunut Fleming (1987:234) adalah penyebab atau alat yang
turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator
media menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif
antar dua pihak utama dalam proses belajar siswa dan isi pelajaran. Disamping
itu, mediator dapat pula mencerminkan pengertian bahwa setiap sistem
pembelajaran yang melakukan peran mediasi, mulai dari guru sampa kepada
peralatanpalin canggih, dapat disebut media. Ringkasnya, media adalah alat yang
menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pembelajaran. Hamidjojo dalam Latuheru
(1993) member batasan media sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh
manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide, gagasan atau pendapat sehingga
ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang
dituju.
C. Jenis-jenis Media Pembelajaran
Media pembelajaran banyak jenis dan macamnya. Dari yang
palng sederhana dan murah hingga yang canggih dan mahal. Ada yang dapat dibuat
oleh guru sendiri dan ada yang diproduksi pabrik. Ada yang sudah tersedia di
lingkungan untuk langsung dimanfaatkan dan ada yang sengaja dirancang.
Berbagai sudut pandang
untuk menggolongkan jenis-jenis media.
Rudy Bretz (1971) menggolongkan media berdasarkan tiga unsur pokok (suara, visual dan
gerak):
1) Media audio
2) Media cetak
3) Media visual diam
4) Media visual gerak
5) Media audio semi gerak
6) Media visual semi gerak
7) Media audio visual diam
8) Media audio visual
gerak
Anderson (1976)
menggolongkan menjadi 10 media:
1) audio :
Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
2) cetak :
buku pelajaran, modul, brosur, leaflet, gambar
3) audio-cetak :
kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
4) proyeksi visual diam :
Overhead transparansi (OHT), film bingkai (slide)
5) proyeksi audio visual
diam : film bingkai slide bersuara
6) visual gerak :
film bisu
7) audio visual gerak :
film gerak bersuara, Video/VCD, Televisi
8) obyek fisik :
Benda nyata, model, spesimen
9) manusia dan lingkungan :
guru, pustakawan, laboran
10) computer :
CAI
Schramm (1985)
menggolongkan media berdasarkan kompleksnya suara, yaitu: media kompleks (film,
TV, Video/VCD,) dan media sederhana (slide, audio, transparansi, teks). Selain
itu menggolongkan media berdasarkan jangkauannya, yaitu media masal (liputannya
luas dan serentak / radio, televisi), media kelompok (liputannya seluas ruangan
/ kaset audio, video, OHP, slide, dll), media individual (untuk perorangan /
buku teks, telepon, CAI).
Henrich, dkk
menggolongkan:
1) media yang tidak
diproyeksikan
2) media yang
diproyeksikan
3) media audio
4) media video
5) media berbasis komputer
6) multi media kit
a. Media Visual
1. Media yang tidak
diproyeksikan
a) Media realia adalah
benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa
dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realia ini adalah dapat
memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari
keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ
tanaman.
b) Model adalah benda tiruan
dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda
yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai
pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, pencernaan, pernafasan,
peredaran darah, sistem ekskresi, dan syaraf pada hewan.
c) Media grafis tergolong
media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari
media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan
mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya
dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah:
1)
gambar / foto: paling umum digunakan
2)
sketsa: gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok
tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan
verbalisme, dan memperjelas pesan.
3)
diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk
menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk
mempelajari organisasi kehidupan dari sel samapai organisme.
4)
bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah
dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting
dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti:
gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.
5)
grafik: gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau
bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif. Misal untuk mempelajari
pertumbuhan.
2.
Media proyeksi
a) Transparansi OHP
merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas
tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus
membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak
(Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP).
Teknik pembuatan media transparansi, yaitu:
ü Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu
ü Membuat sendiri secara manual
b) Film bingkai / slide adalah
film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam
satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat
film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang
dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan
peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan
proyektor slide.
b. Media Audio
1. Radio
Radio merupakan
perlengkapan elektronik yang dapat digunakan untuk mendengarkan berita yang
bagus dan aktual, dapat mengetahui beberapa kejadian dan peristiwa-peristiwa
penting dan baru, masalah-masalah kehidupan dan sebagainya. Radio dapat
digunakan sebagai media pembelajaran yang cukup efektif.
a. Kaset-audio
Yang dibahas disini
khusus kaset audio yang sering digunakan di sekolah. Keuntungannya adalah
merupakan media yang ekonomis karena biaya pengadaan dan perawatan murah.
c. Media Audio-Visual
1. Media video
Merupakan salah satu
jenis media audio visual, selain film. Yang banyak dikembangkan untuk keperluan
pembelajaran, biasa dikemas dalam bentuk VCD.
2. Media komputer
Media ini memiliki
semua kelebihan yang dimiliki oleh media lain. Selain mampu menampilkan teks,
gerak, suara dan gambar, komputer juga dapat digunakan secara interaktif, bukan
hanya searah. Bahkan komputer yang disambung dengan internet dapat memberikan
keleluasaan belajar menembus ruang dan waktu serta menyediakan sumber belajar
yang hampir tanpa batas.
D.
Fungsi Media Pembelajaran
Pada uraian tentang hakikat media pembelajaran sudah jelas
dinyatakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai
penyalur atau perantara pesan atau informasi dari sumber informasi sehingga
siswa benar-benar dapat belajar secara optimal. Dengan demikian, fungus utama
media adalah mempermudah siswa belajar dan tentu saja ini juga mempermudah guru
dalam mengajar.
Munadi (2008:36) menyebutkan fungsi media pembelajaran yaitu:
1.
Media
Pembelajaran sebagai Sumber Belajar
Fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai sumber belajar.
Mudhofir (dalam Munadi,2008:36) menyatakan bahwa sumber belajar adalah komponen
sistem instruksional dalam meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan
lingkungan yang mana hal itu dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Sumber
belajar dapat dpahami sebagai segala macam sumber yang berada diluar diri siswa
dan memungkinkan atau mempermudah siswa belajar.
2.
Fungsi Semantik
Fungsi semantic yang dimaksut adalah media berfungsi untuk menambah
perbendaharaan kata symbol verbal sehingga makna atau maksutnya benar-benar
dipahami (Munadi,2008:39). Kata merupakan struktur bahasa yang paing dasar.
Kegiatan berkomunikasi dalam proses belajar mengajar menggunakan bahasa sebagai
medianya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap bahasa menjadi mutlak karena
pesan atau informasi yang dipelajari siswa di kemas dalam bentuk bahasa. Media
membantu siswa untuk memahami makna kata/bahasa yang digunakan sehinga makna
kata/bahasa mendapat penafsiran yang benar.
Suatu kata terkadang merujuk pada suatu benda yang sangat
konkrit,tetapi tidak lajang suatu kata atau bahasa merujuk pada peristiwa,
sifat sesuatu, konsep, hubungan antar konsep, dan sebagainya. Apabila suatu
kata merujuk pada suatu benda konkrit, misalnya: gunung, gajah, mobil, dan lain-lain,
maka guru cukup membawa gambar atau menunjukkan benda aslinya dan menyebutkan
namanya. Pemahaman siswa relative tidak menimbulkan salah tafsir akan tetapi,
jika kata-kata itu merujuk pada peristiwa atau konsep yang sangat abstrak,
misalnya: keimanan, akhlak, kepribadian, sifat, dan lain-lain. Akan sulit kalau
guru hanya menjelaskan dengan bahasa verbal. Guru yang kreatif akan menggunakan
media untuk menjelaskan konsep-konsep tersebut, misalnya dengan cerita
menggunakan boneka.
3.
Fungsi
Manipulatif
Fungsi manipulatif dimiliki media karena memiliki karakteristik
umum yaitu mengatasi batas ruang dan waktu untuk mengatasi keterbatasan indrawi
(Munadi,2008:41). Kemampuan media pembelajaran dalam mengatasi batas-batas
ruang dan waktu terlihat dalam paparan berikut.
a.
Kemampuan media
menjadikan objek atau peristiwa yang sulit dihadirkan dalam bentuk aslinya,
misalnya: bencana alam, banjir, ikan paus melahirkan anak, dan sebagainya.
b.
Kemampuan media
menjadikan objek yang panjang menjadi singkat, misalnya:proses metamorphosis,
proses ibadah haji, dan sebagainya.
c.
Kemampuan media
menghadirkan kembali peristiwa yang sudah terjadi.
Adapun
kemampuan media pembelajaran dalam mengatasi keterbatasan inderawi terlihat
pada kenyataan berikut.
a.
Media membentu
siswa memahami objek yang sulit diamati karena terlalu kecil, misalnya:atom,
sel, molekul, dan sebagainya.
b.
Media membantu
siswa dalam memahami objek yang bergerak terlalu lambat atau terlalu cepat.
c.
Media membantu
siswa dalam memahami objek yang membutuhkan kejelasan suara, misalnya: cara
membaca Al-Quran yang benar.
d.
Media membantu
siswa dalam memahami objek yang terlalu kompleks, misalnya: pertumbuhan
penduduk, prosestase kelulusan di sekolah selama sepuuh tahun, dan sebagainya.
4.
Fungsi
Psikologis
Munadi (2008:43) menyebutkan fungsi psikologis meliputi:
a.
Fungsi atensi
karena media mampu meningkatkan perhatian siswa terhadap materi pembelajaran.
b.
Fungsi afektif
karrena media mampu menggugah perasaan, emosi, dan tingkat penerimaan atau
penolakan siswa terhadap sesuatu.
c.
Fungsi kognitif
karena media ikut mengembangkan kognitif siswa yaitu siswa memperoleh dan
menggunakan bentuk-bentuk representasi yang mewakili objek-objek yang dihadapi.
Semakin banyak objek yang dihadapi semakin banyak gagasan atau pikiran yang
dimiliki siswa.
d.
Fungsi
imajinatif karena media mampu meningkatkan dan mengembangkan daya imajinasi
siswa.
e.
Fungsi motivasi
karena media mampu menimbulkan dorongan untuk berbuat atau melakukan sesuatu.
Dengan media, guru mampu mendorong, mengaktifkan, dan menggerakkan siswanya
secara sadar untuk terlibat secara aktif di dalam pembelajaran.
5.
Fungsi
Sosio-Kultural
Fungsi media dilihat dari sosio-kultural adalah mengatasi hambatan
sosio-kultural antara peserta komunikasi dalam pembelajaran (Munadi,2008:48).
Siswa memiliki karakteristik yang bermacam-macam, apabila dihubungkan dengan
kebiasaan, adat, keyakinan, lingkungan, dan sebagainya. Padahal pembelajarn
secara klasikal selalu memberikan materi atau perlakuan yang sama kepada semua
siswa di dalam satu kelas. Hal ini, sering menyulitkan guru dalam menyamakan
persepsi, menyamakan perhatian, menyamakan penafsiran, dan sebagainya. Media
pembelajaran dapat memberikan rangsangan yang sama, yang bisa dinikmati oleh
siapa saja, sehingga memiliki pengalaman yang sama, sehingga menimbulkan
persepsi yang sama.
E.
Pembelajaran
Bahasa Indonesia
1.
Pembelajaran
Bahasa Indonesia
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan
intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang
keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa
diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang
lain, mengemukakan gagasan dan
perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan
bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan
imaginatif yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan
peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan
baik dan benar, baik
secara lisan maupun tulis, serta
menumbuhkan apresiasi terhadap
hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
2. Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Sd
Bahasa memungkinkan manusia
untuk saling berkomunikasi, saling berbagi pengalaman,
saling belajar dari yang lain, dan untuk meningkatkan kemampuan
intelektual dan kesusasteraan merupakan salah satu sarana
untuk menuju pemahaman tersebut. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa
Indonesia adalah salah satu program yang bertujuan untuk mengembangkan
pengetahuan, keterampilan berbahasa peserta didik, serta sikap positif terhadap
Bahasa dan Sastra Indonesia.
Tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD yaitu :
1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku,
baik secara lisan maupun tulis.
2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa
Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara.
3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk
berbagai tujuan.
4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk
meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan
sosial.
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan,
memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan
intelektual manusia Indonesia.
Sedangkan tujuan pembelajaran
Bahasa Indonesia di SD untuk aspek menulis adalah agar
peserta didik memiliki kemampuan untuk melakukan berbagai
jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi
dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog, formulir,
teks pidato, laporan, ringkasan, parafrase, serta berbagai karya sastra untuk
anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.
3. Ruang Lingkup Bahasa Indonesia Di SD
Dengan
standar kompetensi mata pelajaran Bahasa
Indonesia ini diharapkan:
a. Peserta didik dapat
mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya,
serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil
intelektual bangsa sendiri;
b. Guru dapat
memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa
peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber
belajar;
c. Guru lebih mandiri dan
leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan
kesastraan sesuai dengan
kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
d. Orang
tua dan masyarakat dapat
secara aktif terlibat dalam pelaksanaan
program kebahasaan daan kesastraan di sekolah;
e. Sekolah dapat menyusun
program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan
peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
f. Daerah dapat menentukan
bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan
kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia ini kelompok kami mengambil
Tema yaitu Tempat Umum dimana . Disini guru menjelaskan dahulu tentang materi
yang akan disampaikan tentang pengertian paragraf, macam-macam paragraf, dan
cara membuat paragraf. Sebelum membuat paragraf guru menyiapkan media yaitu
gambar seri dimana siswa harus mengurutkan dahulu gambar tersebut, memahami
gambar yang telah diurutkan dan membuat cerita sesuai dengan gambar dalam
bentuk paragraf.
F.
Kontribusi
Media Pembelajaran Bahasa Indonesia
Media
pembelajaran dalam pembelajaran bahasa Indonesia sangat penting untuk menunjang
keberhasilan dalam sebuah pembelajaran. Hal ini dikarenakan media berfungsi
sebagai perantara atau penyalur informasi dari guru kepada siswa agar siswa
dapat dengan mudah menerima pembelajaran yang diberikan oleh guru. Ada
bermacam-macam media pembelajaran yang dapat mendukung proses pembelajaran
bahasa Indonesia diantaranya :
1.
Media
pembelajaran Puzzle
Puzzle
merupakan permainan yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan anak dalam
merangkainya. Puzzle merupakan kepingan tipis yang terdiri dari 2-3 bahkan 4-6
potongyang terbuat dari kayu atau lempeng karton. Dengan terbiasa bermain
puzzle, lambat laun mental anak juga akan
terbiasa untuk bersikap tenang, tekun, dan
sabar dalam menyelesaikan sesuatu. Kepuasan yang didapat saat anak
menyelesaikan puzzle pun merupakan salah satu pembangkit motifasi anak untuk
menemukan hal-hal yang baru.
Dalam pembelajaran menggunakan games puzzle, memberikan manfaat siswa untuk
berfikir secara nyaman melalui permainan untuk menyelesaikan masalah yang
berhubungan dengan materi pelajaran yang masih dipelajari. Proses belajar
memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap.
Kemudian untuk menjadikan permasalahan dapat membuat siswa tertantang
menyelesaikannya memerlukan beberapa prinsip yang harus diperhatikan.
Manfaat Media Puzzle dalam
Pembelajaran
a.
Meningkatkan keterampilan
kognitif
b.
Meningkakan
keterampilan motorik halus
c.
Melatih
kemampuan nalar dan daya ingat dan konsentrasi
d.
Melatih
kesabaran
e.
Pengetahuan
melalui puzzle
f.
Meningkatkan
keterampilan social
2.
Media Gambar
3.
Media Kotak
Peran
4.
Media Mekameka
(Mencari Kata Menyusun Kalimat)
Menyusun kata menjadi sebuah kalimat
adalah materi umum dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD kelas tinggi.
Secara konvensional, guru sering memulai dengan mengacak kata-kata yang ada
dalam sebuah kalimat, selanjutnya menugaskan siswa untuk menyusun kembali
menjadi kalimat yang benar. Cara ini juga dituntunkan dalam beberapa buku paket dan
sangat sering muncul dalam soal semester atau ujian.
Kelemahan yang sangat jelas pada cara yang
konvensional di atas adalah bahwa siswa kurang kreatif membuat kalimat
dikarenakan kalimat yang harus dibuat adalah merupakan kalimat jadi yang hanya
sekadar diacak kata-kata yang membentuknya. Sampai di sini tentu tak ada permasalahan
yang terlihat jika guru hanya berpatokan kesanggupan siswa menyusun kata-kata
acak tadi menjadi kalimat, apalagi jika hanya didasarkan kesanggupan siswa
menjawab soal menyusun kata acak menjadi kalimat. Namun, persoalan akan muncul
jika siswa diperhadapkan dengan beberapa kata acak yang tidak berasal dari
kalimat jadi.
Media yang disebut Mekameka singkatan dari
Mencari Kata Menyusun Kalimat dapat menjadi solusinya. Mekameka dibuat dari
karton, bisa marmar atau dupleks, namun disarankan karton dupleks karena tebal
dan masih bisa digulung. Karton dupleks bisa dibagi empat sama besar,
selanjutnya dibuat garis horizontal dan vertical sehingga terbentuk 100 kotak.
Setiap kotak diisi dengan sebuah kata dengan jumlah 90 kata. Sepuluh kotak yang
tidak terisi dijadikan bantuan pada saat mekameka digunakan.
Pemanfaatan dan Hasil Mekameka
Mekameka dapat dijadikan media pembelajaran
sekaligus alat permainan dan perlombaan sehingga dapat dikatakan three in one.
90 kata yang tersedia akan dipilih oleh siswa dengan melempar dadu seperti
layaknya permainan monopoli. Siswa akan menulis kata yang dipilihnya dan apabila siswa memilih
kotak yang kosong, maka kesempatan untuk memilih kata sendiri. Setelah siswa
dan lawan mainnya memilih beberapa kata dan merasa telah dapat menyusunnya
menjadi kalimat, maka siswa membuat kalimat yang memanfaatkan
sebanyak-banyaknya kata yang telah dipilihnya.
Siapa yang paling benar kalimatnya dan paling
banyak memanfaatkan kata yang telah dipilihnya, maka dialah yang menjadi
pemenangnya. Kondisi inilah yang dapat menjadikan kelas menjadi hidup dan
bergairah. Proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik sementara siswa
bermain dan berkompetisi. Mekameka dalam aplikasinya dapat bermain individu
maupun kelompok, sehingga dengan satu karton dupleks saja dapat
menghasilkan 4 buah mekameka sehingga dapat merangkum semua siswa untuk bermain
dan berkompetisi.
Mekameka membuat siswa kreatif menemukan
kata-kata yang dapat dijadikan kalimat. Siswa belajar dengan ceria karena
mengandung unsur permainan dan kompetisi. Selain itu, mekameka dapat
dimanfaatkan di luar kelas bahkan dipinjamkan siswa ke rumah untuk dijadikan
sarana bermain yang mendidik dan kreatif.
Dilihat dari macam-macam media pembelajaran
yang mendukung proses pembelajaran bahasa Indonesia kami memilih media
pembelajaran “Kotak Peran” yang akan mempermudah siswa dalam menerima
pembelajaran pada tema yang telah kami pilih yaitu Tempat Umum, dimana menurut kami dengan menggunakan media pembelajaran kotak peran
ini dapat mempermudah anak dalam menerima materi yang diberikan oleh guru dan
media pembelajaran tersebut sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi
dasar yaitu :
Standar Kompetensi :
1.
Mendengarkan
Memahami penjelasan tentang petunjuk dan cerita anak
yang dilisankan.
2.
Berbicara
Mengungkapkan
pikiran, perasaan, pengalaman, dan
petunjuk dengan bercerita, dan memberikan tanggapan atau saran.
Kompetensi
Dasar :
1.1 Melakukan
sesuatu berdasarkan penjelasan yang disampaikan secara lisan.
2.1
Menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunakan kalimat yang runtut
dan mudah dipahami.
Berdasarkan
standar kompetensi dan kompetensi dasar
tersebut maka dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia, media pembelajaran
yang digunakan adalah Kotak Peran dimana penggunaan media pembelajaran tersebut
adalah :
1.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar