Minggu, 06 Juli 2014

Media Pembelajaran dan ICT Pembelajaran Bahasa Indonesia



Media Pembelajaran dan ICT
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu : Minsih, S.Pd, M.Pd

 
 

Disusun Oleh :
1.      Pradita Wisnu Dwi Rahmawan       (A510120171)
2.      Linda Feronika                                 (A510120181)
3.      Luthfiah Hidayati                            (A510120188)
4.      Riesdam Mahdi Muhammad           (A510120190)
5.      Citra Armelia                                   (A510120193)
6.      Rochmat Tony Prasetyo                   (A510120194)






PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS  MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dunia pengajaran dan pembelajaran memiliki peran yang sangat penting terhadap perkembangan pendidikan, terutama bagi anak didik. Sebab, melalui pengajaran dan pembelajaran itulah, proses pendidikan berlangsung. Karena itu, dunia pendidikan menjadi signifikan untuk dicermati dan diperhatikan. Salah satunya adalah dengan memahami tentang berbagai media pengajaran dan pembelajaran yang digunakan dalam proses memberikan materi pengajaran kepada peserta didik.
Media pembelajaran digunakan sebagai alat bantu untuk mempermudah dan membantu tugas guru dalam menyampaikan berbagai bahan dan materi pelajaran, serta mengefektifkan dan mengefisienkan anak didik dalam memahami materi dan bahan pelajaran tersebut. Dengan adanya media pembelajaran, anak didik dapat belajar dengan mudah dan merasa senang dalam mengikuti pelajaran. Biasanya, anak didik dapat dengan mudah menangkap materi pelajaran bila pembelajaran yang diselenggarakan tersebut menyenangkan.
Umumnya media pembelajaran itu dikemas dengan cara yang menarik. Sedangkan penyajiannya disampaikan secara menarik dan disesuaikan dengan karakteristik anak didik. Sehingga anak didik akan dengan mudah mencerna pelajaran tersebut. Dengan demikian, tujuan pembelajaran pun akan tercapai dengan efektif dan efisien.
Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang penting diajarkan di sekolah-sekolah, Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia karena bahasa merupakan alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa, seseorang dapat menyampaikan ide, pikiran,  perasaan, atau info kepada orang lain, baik secara lisan maupun secara tulisan. (Iskandarwassid dan Sunendar, 2009:226).
Dalam menggunakan bahasa, manusia harus terampil. Ketrampilan berbahasa terdidri dari empat aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Di sekolah dasar pun, siswa harus menguasai keempat aspek tersebut agak terampil berbahasa. Ketrampilan menyimak merupakan kegiatan yang paling awal dilakukan oleh anak manusia bila dilihat dari proses pemerolehan bahasa. Sebelum anak dapat melakukan berbicara, membaca, apalagi menulis, kegiatan menyimaklah yang pertama kali dilakukan.


B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian media ?
2.      Apa pengertian media pembelajaran?
3.      Jenis-jenis media pembelajaran?
4.      Fungsi media pembelajaran?
5.      Pembelajaran bahasa Indonesia?
6.      Konstribusi media pembelajaran bahasa Indonesia dalam meningkatkan pembelajaran.


C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penyusunan makalah ini diantaranya sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pengertian media ?
2.      Untuk mengetahui Apa pengertian media pembelajaran?
3.      Untuk mengetahui Jenis-jenis media pembelajaran?
4.      Untuk mengetahui Fungsi media pembelajaran?
5.      Untuk mengetahui Pembelajaran bahasa Indonesia?
6.      Untuk mengetahui Konstribusi media pembelajaran bahasa Indonesia dalam meningkatkan pembelajaran.
















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Media
Kata media dalam media pembelajaran secara harfiah berarti perantara atau pengantar, sedangkan kata pembelajaran diartikan sebagai suatu kondisi yang diciptakan untuk membuat seseorang melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian media pembelajaran memberikan penekanan pada posisi media sebagai wahana penyalur pesan atau informasi belajar untuk mengkondisikan seseorang untuk belajar. Dengan kata lain, pada saat kegiatan belajar berlangsung bahan belajar (learning material) yang diterima siswa diperoleh dari media. Hal ini sesuai dengan pendapat Lesle J.Briggs (1979) yang menyatakan bahwa media pembelajaran sebagai “ the physical means of conveying instructional content..book, films videotapes, etc. Lebih jauh Briggs menyatakan media adalah “ alat untuk member  perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar. Sedangkan mengenai efektifitas media, Brown ( 1970 ) menggaris bawahi bahwa media yang digunakan guru atau siswa dengan baik dapat mempengaruhi efektifitas proses belajar dan mengajar (Asra dkk, 2007 : 5-5 ).
Istilah media sering dibedakan dengan alat peraga, tetapi ada juga yang menganggap sama, sehingga satu benda terkadang disebut media tetapi juga disebut alat peraga. Sebetulnya perbedaan antara keduanya hanyalah pada fungsi, bukan pada substansi maupun bendanya sendiri. Sesuatu disebut alat peraga bila fungsinya hanya sebagai alat bantu belaka, dan disebut media bila merupakan bagian integral dari seluruh kegiatan pembelajaran, serta ada pembagian tanggung jawab antyara guru disatu pihak dan media di pihak lain ( Anitah 2008:12 ).
Istilah yang masih berkait dengan media adalah sumber belajar. Sumber belajar adalah orang yang dapat dijadikan tempat bertanya tentang berbagai pengetahuan ( Alwi, 2002 : 1102 ). Pengertian ini sudah tidak lagi sesuai dengan paradigma pembelajaran sekarang yang menggunakan sumber dari berbagai sumber belajar bukan tidak hanya berupa orang.




B.     Pengertian Media Pembelajaran
Istilah media pembelajaran berdekatan dengan istilah istilah yang lain, yaitu : sarana, prasarana, alat eraga, alat bantu dan sumber belajar. Istilah – istilah ini memang secara konseptual bisa dibedakan, tetappi didalam proses pembelajaran istilah-istilah ini sering memiliki pesan yang tumpang tindih bahkan sulit dibedakan. Kata media berasal dari Bahasa Latin yakni Medius yang secara harfiahnya berarti tengah, pengantar, atau perantara ( Munadi, 2008 : 6 ). Kata tengah berarti berada diantara dua sisi, maka bisa disebut sebagai perantara antar kedua sisi. Karena posisinya berada di tengah, media juga bisa disebut sebagai pengantar, penyalur, atau penghubung yakni yang m,enghubungkan atau mengantarkan atau menyalurkan dari satu sisi ke sisi yang lain. pendapat seperti ini juga dikemukakan oleh Bretz ( Dalam Anitah ,2008 : 10 ) Bahwa media adalah sesuatu yang terletak di tengah tengah, jadi suatu perantara. Berdasarkan pengertian ini, maka media dapat dikatakan sebagai perantara pesan. Berdasarkan beberapa pendapat itu dapat dikatakan, secara harfiah media adalah sesuatu yang mengantarkan pesan pembelajaran antara pemberi pesan kepada penerima pesan.
Beberapa definisi tentang media pembelajaran dipaparkan sebagai berikut :
1.             Media adalah grafik, fotografi, elektnonik atau alat – alat mekanik untuk menyajikan, memproses, menjelaskan informasi lisan atau visual ( Gerlach dan Ely dalam Anitah, 2008 : 11 ).
2.             Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan berlajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif ( Munadi, 2008 : 8 ).
3.             Media adalah setiap orang , bahan, alat, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pebelajar untuk menerima pengetahuan, ketrampilan dan sikap ( Anitah, 2008 : 11 ).
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapatlah ditarik suatu simpulan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menjadi perantara pesan dalam proses belajar mengajar dari sumber informasi kepada penerima informasi sehingga terjadi prosese belajar yang kondusif. Kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengatur terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima ( Heinich et.al., 2002 ; Ibrahim, 1997 ; Ibrahim et.al., 2001 ). Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan ( Crititos, 1996 ). Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa media pembelajaran merupakan sarana pelantara dalam proses pembelajaran. Oleh karena prosesd pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsung dalam suatu sisitem maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen system pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara optimal. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem pembelajaran.
Batasan lain telah pula dikemukakan oleh para ahli yang sebagian diantaranya akan diberikan berikut ini. AECT (Association of Education and Communication Technology,1977) member batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Diseamping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media yang sering diganti dengan kata mediator merunut Fleming (1987:234) adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator media menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antar dua pihak utama dalam proses belajar siswa dan isi pelajaran. Disamping itu, mediator dapat pula mencerminkan pengertian bahwa setiap sistem pembelajaran yang melakukan peran mediasi, mulai dari guru sampa kepada peralatanpalin canggih, dapat disebut media. Ringkasnya, media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pembelajaran. Hamidjojo dalam Latuheru (1993) member batasan media sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide, gagasan atau pendapat sehingga ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju.
C.      Jenis-jenis  Media Pembelajaran
            Media pembelajaran banyak jenis dan macamnya. Dari yang palng sederhana dan murah hingga yang canggih dan mahal. Ada yang dapat dibuat oleh guru sendiri dan ada yang diproduksi pabrik. Ada yang sudah tersedia di lingkungan untuk langsung dimanfaatkan dan ada yang sengaja dirancang.
Berbagai sudut pandang untuk menggolongkan jenis-jenis media.
Rudy Bretz (1971) menggolongkan media berdasarkan tiga unsur pokok (suara, visual dan gerak):
1)      Media audio
2)      Media cetak
3)      Media visual diam
4)      Media visual gerak
5)      Media audio semi gerak
6)      Media visual semi gerak
7)      Media audio visual diam
8)      Media audio visual gerak
Anderson (1976) menggolongkan menjadi 10 media:
1)      audio                                             : Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
2)      cetak                                              : buku pelajaran, modul, brosur, leaflet, gambar
3)      audio-cetak                                   : kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
4)      proyeksi visual diam                     : Overhead transparansi (OHT), film bingkai (slide)
5)       proyeksi audio visual diam           : film bingkai slide bersuara
6)      visual gerak                                   : film bisu
7)      audio visual gerak                         : film gerak bersuara, Video/VCD, Televisi
8)      obyek fisik                                                : Benda nyata, model, spesimen
9)      manusia dan lingkungan               : guru, pustakawan, laboran
10)  computer                                       : CAI

Schramm (1985) menggolongkan media berdasarkan kompleksnya suara, yaitu: media kompleks (film, TV, Video/VCD,) dan media sederhana (slide, audio, transparansi, teks). Selain itu menggolongkan media berdasarkan jangkauannya, yaitu media masal (liputannya luas dan serentak / radio, televisi), media kelompok (liputannya seluas ruangan / kaset audio, video, OHP, slide, dll), media individual (untuk perorangan / buku teks, telepon, CAI).

Henrich, dkk menggolongkan:
1)      media yang tidak diproyeksikan
2)      media yang diproyeksikan
3)      media audio
4)      media video
5)      media berbasis komputer
6)      multi media kit 

a.       Media Visual
1.      Media yang tidak diproyeksikan
a)      Media realia adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realia ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman.
b)      Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, pencernaan, pernafasan, peredaran darah, sistem ekskresi, dan syaraf pada hewan. 
c)      Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah:
1)      gambar / foto: paling umum digunakan
2)      sketsa: gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan.
3)      diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk mempelajari organisasi kehidupan dari sel samapai organisme.
4)      bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.
5)      grafik: gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif. Misal untuk mempelajari pertumbuhan.
2.      Media proyeksi
a)      Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu:
ü  Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu
ü  Membuat sendiri secara manual
b)      Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.
b.      Media Audio
1.      Radio
Radio merupakan perlengkapan elektronik yang dapat digunakan untuk mendengarkan berita yang bagus dan aktual, dapat mengetahui beberapa kejadian dan peristiwa-peristiwa penting dan baru, masalah-masalah kehidupan dan sebagainya. Radio dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang cukup efektif.
a.       Kaset-audio
Yang dibahas disini khusus kaset audio yang sering digunakan di sekolah. Keuntungannya adalah merupakan media yang ekonomis karena biaya pengadaan dan perawatan murah.

c.       Media Audio-Visual
1.      Media video
Merupakan salah satu jenis media audio visual, selain film. Yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran, biasa dikemas dalam bentuk VCD.
2.      Media komputer
Media ini memiliki semua kelebihan yang dimiliki oleh media lain. Selain mampu menampilkan teks, gerak, suara dan gambar, komputer juga dapat digunakan secara interaktif, bukan hanya searah. Bahkan komputer yang disambung dengan internet dapat memberikan keleluasaan belajar menembus ruang dan waktu serta menyediakan sumber belajar yang hampir tanpa batas.

D.    Fungsi Media Pembelajaran

Pada uraian tentang hakikat media pembelajaran sudah jelas dinyatakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai penyalur atau perantara pesan atau informasi dari sumber informasi sehingga siswa benar-benar dapat belajar secara optimal. Dengan demikian, fungus utama media adalah mempermudah siswa belajar dan tentu saja ini juga mempermudah guru dalam mengajar.
Munadi (2008:36) menyebutkan fungsi media pembelajaran yaitu:
1.      Media Pembelajaran sebagai Sumber Belajar
Fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai sumber belajar. Mudhofir (dalam Munadi,2008:36) menyatakan bahwa sumber belajar adalah komponen sistem instruksional dalam meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan yang mana hal itu dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Sumber belajar dapat dpahami sebagai segala macam sumber yang berada diluar diri siswa dan memungkinkan atau mempermudah siswa belajar.
2.      Fungsi Semantik
Fungsi semantic yang dimaksut adalah media berfungsi untuk menambah perbendaharaan kata symbol verbal sehingga makna atau maksutnya benar-benar dipahami (Munadi,2008:39). Kata merupakan struktur bahasa yang paing dasar. Kegiatan berkomunikasi dalam proses belajar mengajar menggunakan bahasa sebagai medianya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap bahasa menjadi mutlak karena pesan atau informasi yang dipelajari siswa di kemas dalam bentuk bahasa. Media membantu siswa untuk memahami makna kata/bahasa yang digunakan sehinga makna kata/bahasa mendapat penafsiran yang benar.
Suatu kata terkadang merujuk pada suatu benda yang sangat konkrit,tetapi tidak lajang suatu kata atau bahasa merujuk pada peristiwa, sifat sesuatu, konsep, hubungan antar konsep, dan sebagainya. Apabila suatu kata merujuk pada suatu benda konkrit, misalnya: gunung, gajah, mobil, dan lain-lain, maka guru cukup membawa gambar atau menunjukkan benda aslinya dan menyebutkan namanya. Pemahaman siswa relative tidak menimbulkan salah tafsir akan tetapi, jika kata-kata itu merujuk pada peristiwa atau konsep yang sangat abstrak, misalnya: keimanan, akhlak, kepribadian, sifat, dan lain-lain. Akan sulit kalau guru hanya menjelaskan dengan bahasa verbal. Guru yang kreatif akan menggunakan media untuk menjelaskan konsep-konsep tersebut, misalnya dengan cerita menggunakan boneka.
3.      Fungsi Manipulatif
Fungsi manipulatif dimiliki media karena memiliki karakteristik umum yaitu mengatasi batas ruang dan waktu untuk mengatasi keterbatasan indrawi (Munadi,2008:41). Kemampuan media pembelajaran dalam mengatasi batas-batas ruang dan waktu terlihat dalam paparan berikut.
a.       Kemampuan media menjadikan objek atau peristiwa yang sulit dihadirkan dalam bentuk aslinya, misalnya: bencana alam, banjir, ikan paus melahirkan anak, dan sebagainya.
b.      Kemampuan media menjadikan objek yang panjang menjadi singkat, misalnya:proses metamorphosis, proses ibadah haji, dan sebagainya.
c.       Kemampuan media menghadirkan kembali peristiwa yang sudah terjadi.
Adapun kemampuan media pembelajaran dalam mengatasi keterbatasan inderawi terlihat pada kenyataan berikut.
a.       Media membentu siswa memahami objek yang sulit diamati karena terlalu kecil, misalnya:atom, sel, molekul, dan sebagainya.
b.      Media membantu siswa dalam memahami objek yang bergerak terlalu lambat atau terlalu cepat.
c.       Media membantu siswa dalam memahami objek yang membutuhkan kejelasan suara, misalnya: cara membaca Al-Quran yang benar.
d.      Media membantu siswa dalam memahami objek yang terlalu kompleks, misalnya: pertumbuhan penduduk, prosestase kelulusan di sekolah selama sepuuh tahun, dan sebagainya.
4.      Fungsi Psikologis
Munadi (2008:43) menyebutkan fungsi psikologis meliputi:
a.       Fungsi atensi karena media mampu meningkatkan perhatian siswa terhadap materi pembelajaran.
b.      Fungsi afektif karrena media mampu menggugah perasaan, emosi, dan tingkat penerimaan atau penolakan siswa terhadap sesuatu.
c.       Fungsi kognitif karena media ikut mengembangkan kognitif siswa yaitu siswa memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk representasi yang mewakili objek-objek yang dihadapi. Semakin banyak objek yang dihadapi semakin banyak gagasan atau pikiran yang dimiliki siswa.
d.      Fungsi imajinatif karena media mampu meningkatkan dan mengembangkan daya imajinasi siswa.
e.       Fungsi motivasi karena media mampu menimbulkan dorongan untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Dengan media, guru mampu mendorong, mengaktifkan, dan menggerakkan siswanya secara sadar untuk terlibat secara aktif di dalam pembelajaran.
5.      Fungsi Sosio-Kultural
Fungsi media dilihat dari sosio-kultural adalah mengatasi hambatan sosio-kultural antara peserta komunikasi dalam pembelajaran (Munadi,2008:48). Siswa memiliki karakteristik yang bermacam-macam, apabila dihubungkan dengan kebiasaan, adat, keyakinan, lingkungan, dan sebagainya. Padahal pembelajarn secara klasikal selalu memberikan materi atau perlakuan yang sama kepada semua siswa di dalam satu kelas. Hal ini, sering menyulitkan guru dalam menyamakan persepsi, menyamakan perhatian, menyamakan penafsiran, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat memberikan rangsangan yang sama, yang bisa dinikmati oleh siapa saja, sehingga memiliki pengalaman yang sama, sehingga menimbulkan persepsi yang sama.

E.     Pembelajaran Bahasa Indonesia
1.      Pembelajaran Bahasa Indonesia
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain,   mengemukakan   gagasan   dan   perasaan,   berpartisipasi   dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan   baik   dan   benar,   baik   secara   lisan   maupun   tulis,   serta menumbuhkan   apresiasi   terhadap   hasil   karya   kesastraan   manusia Indonesia.
2.      Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Sd
Bahasa   memungkinkan   manusia   untuk   saling   berkomunikasi, saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan untuk meningkatkan  kemampuan  intelektual  dan  kesusasteraan  merupakan salah satu sarana untuk menuju pemahaman tersebut. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu program yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa peserta didik, serta sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia.
Tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD yaitu :
1.      Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis.
2.      Menghargai  dan  bangga  menggunakan  bahasa  Indonesia  sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara.
3.      Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
4.      Menggunakan  bahasa  Indonesia  untuk  meningkatkan  kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.
5.      Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan,  memperhalus  budi  pekerti,  serta  meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
6.      Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Sedangkan  tujuan  pembelajaran  Bahasa  Indonesia  di  SD untuk aspek menulis adalah agar peserta didik memiliki kemampuan    untuk melakukan berbagai jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan, ringkasan, parafrase, serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.
3.      Ruang Lingkup Bahasa Indonesia Di SD
Dengan  standar  kompetensi  mata  pelajaran  Bahasa  Indonesia  ini diharapkan:
a.       Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
b.      Guru  dapat  memusatkan  perhatian  kepada  pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
c.       Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan   dan   kesastraan   sesuai   dengan   kondisi   lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
d.      Orang   tua   dan   masyarakat   dapat   secara   aktif   terlibat   dalam pelaksanaan program kebahasaan daan kesastraan di sekolah;
e.       Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
f.       Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia ini kelompok kami mengambil Tema yaitu Tempat Umum dimana . Disini guru menjelaskan dahulu tentang materi yang akan disampaikan tentang pengertian paragraf, macam-macam paragraf, dan cara membuat paragraf. Sebelum membuat paragraf guru menyiapkan media yaitu gambar seri dimana siswa harus mengurutkan dahulu gambar tersebut, memahami gambar yang telah diurutkan dan membuat cerita sesuai dengan gambar dalam bentuk paragraf.
F.     Kontribusi Media Pembelajaran Bahasa Indonesia
Media pembelajaran dalam pembelajaran bahasa Indonesia sangat penting untuk menunjang keberhasilan dalam sebuah pembelajaran. Hal ini dikarenakan media berfungsi sebagai perantara atau penyalur informasi dari guru kepada siswa agar siswa dapat dengan mudah menerima pembelajaran yang diberikan oleh guru. Ada bermacam-macam media pembelajaran yang dapat mendukung proses pembelajaran bahasa Indonesia diantaranya :
1.      Media pembelajaran Puzzle
Puzzle merupakan permainan yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan anak dalam merangkainya. Puzzle merupakan kepingan tipis yang terdiri dari 2-3 bahkan 4-6 potongyang terbuat dari kayu atau lempeng karton. Dengan terbiasa bermain puzzle, lambat laun mental  anak  juga  akan  terbiasa  untuk  bersikap tenang,  tekun,  dan  sabar  dalam menyelesaikan sesuatu. Kepuasan yang didapat saat anak menyelesaikan puzzle pun merupakan salah satu pembangkit motifasi anak untuk menemukan hal-hal yang baru.
Dalam pembelajaran menggunakan games puzzle, memberikan manfaat siswa untuk berfikir secara nyaman melalui permainan untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan materi pelajaran yang masih dipelajari. Proses belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Kemudian untuk menjadikan permasalahan dapat membuat siswa tertantang menyelesaikannya memerlukan beberapa prinsip yang harus diperhatikan.
Manfaat Media Puzzle dalam Pembelajaran
a.       Meningkatkan keterampilan kognitif
b.      Meningkakan keterampilan motorik halus
c.       Melatih kemampuan nalar dan daya ingat dan konsentrasi
d.      Melatih kesabaran
e.       Pengetahuan melalui puzzle
f.       Meningkatkan keterampilan social


2.      Media Gambar
3.      Media Kotak Peran

4.      Media Mekameka (Mencari Kata Menyusun Kalimat)
Menyusun kata menjadi sebuah kalimat adalah materi umum dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD kelas tinggi. Secara konvensional, guru sering memulai dengan mengacak kata-kata yang ada dalam sebuah kalimat, selanjutnya menugaskan siswa untuk menyusun kembali menjadi kalimat yang benar. Cara ini juga dituntunkan dalam beberapa buku paket dan sangat sering muncul dalam soal semester atau ujian.
Kelemahan yang sangat jelas pada cara yang konvensional di atas adalah bahwa siswa kurang kreatif membuat kalimat dikarenakan kalimat yang harus dibuat adalah merupakan kalimat jadi yang hanya sekadar diacak kata-kata yang membentuknya. Sampai di sini tentu tak ada permasalahan yang terlihat jika guru hanya berpatokan kesanggupan siswa menyusun kata-kata acak tadi menjadi kalimat, apalagi jika hanya didasarkan kesanggupan siswa menjawab soal menyusun kata acak menjadi kalimat. Namun, persoalan akan muncul jika siswa diperhadapkan dengan beberapa kata acak yang tidak berasal dari kalimat jadi.
Media yang disebut Mekameka singkatan dari Mencari Kata Menyusun Kalimat dapat menjadi solusinya. Mekameka dibuat dari karton, bisa marmar atau dupleks, namun disarankan karton dupleks karena tebal dan masih bisa digulung. Karton dupleks bisa dibagi empat sama besar, selanjutnya dibuat garis horizontal dan vertical sehingga terbentuk 100 kotak. Setiap kotak diisi dengan sebuah kata dengan jumlah 90 kata. Sepuluh kotak yang tidak terisi dijadikan bantuan pada saat mekameka digunakan.

Pemanfaatan dan Hasil Mekameka
Mekameka dapat dijadikan media pembelajaran sekaligus alat permainan dan perlombaan sehingga dapat dikatakan three in one. 90 kata yang tersedia akan dipilih oleh siswa dengan melempar dadu seperti layaknya permainan monopoli. Siswa akan menulis kata yang dipilihnya dan apabila siswa memilih kotak yang kosong, maka kesempatan untuk memilih kata sendiri. Setelah siswa dan lawan mainnya memilih beberapa kata dan merasa telah dapat menyusunnya menjadi kalimat, maka siswa membuat kalimat yang memanfaatkan sebanyak-banyaknya kata yang telah dipilihnya.
Siapa yang paling benar kalimatnya dan paling banyak memanfaatkan kata yang telah dipilihnya, maka dialah yang menjadi pemenangnya. Kondisi inilah yang dapat menjadikan kelas menjadi hidup dan bergairah. Proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik sementara siswa bermain dan berkompetisi. Mekameka dalam aplikasinya dapat bermain individu maupun kelompok, sehingga dengan satu  karton dupleks saja dapat menghasilkan 4 buah mekameka sehingga dapat merangkum semua siswa untuk bermain dan berkompetisi.
Mekameka membuat siswa kreatif menemukan kata-kata yang dapat dijadikan kalimat. Siswa belajar dengan ceria karena mengandung unsur permainan dan kompetisi. Selain itu, mekameka dapat dimanfaatkan di luar kelas bahkan dipinjamkan siswa ke rumah untuk dijadikan sarana bermain yang mendidik dan kreatif.

Dilihat dari macam-macam media pembelajaran yang mendukung proses pembelajaran bahasa Indonesia kami memilih media pembelajaran “Kotak Peran” yang akan mempermudah siswa dalam menerima pembelajaran pada tema yang telah kami pilih yaitu Tempat Umum,  dimana menurut kami dengan  menggunakan media pembelajaran kotak peran ini dapat mempermudah anak dalam menerima materi yang diberikan oleh guru dan media pembelajaran tersebut sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yaitu :
Standar Kompetensi :
1.      Mendengarkan
Memahami  penjelasan tentang petunjuk dan cerita anak yang dilisankan.
2.      Berbicara
Mengungkapkan pikiran, perasaan,  pengalaman, dan petunjuk dengan bercerita, dan memberikan tanggapan atau saran.
Kompetensi Dasar :
1.1  Melakukan sesuatu berdasarkan penjelasan yang disampaikan secara lisan.
2.1 Menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunakan kalimat yang runtut dan mudah dipahami.
Berdasarkan standar kompetensi  dan kompetensi dasar tersebut maka dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia, media pembelajaran yang digunakan adalah Kotak Peran dimana penggunaan media pembelajaran tersebut adalah :
1.       







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Minggu, 06 Juli 2014

Media Pembelajaran dan ICT Pembelajaran Bahasa Indonesia



Media Pembelajaran dan ICT
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu : Minsih, S.Pd, M.Pd

 
 

Disusun Oleh :
1.      Pradita Wisnu Dwi Rahmawan       (A510120171)
2.      Linda Feronika                                 (A510120181)
3.      Luthfiah Hidayati                            (A510120188)
4.      Riesdam Mahdi Muhammad           (A510120190)
5.      Citra Armelia                                   (A510120193)
6.      Rochmat Tony Prasetyo                   (A510120194)






PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS  MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dunia pengajaran dan pembelajaran memiliki peran yang sangat penting terhadap perkembangan pendidikan, terutama bagi anak didik. Sebab, melalui pengajaran dan pembelajaran itulah, proses pendidikan berlangsung. Karena itu, dunia pendidikan menjadi signifikan untuk dicermati dan diperhatikan. Salah satunya adalah dengan memahami tentang berbagai media pengajaran dan pembelajaran yang digunakan dalam proses memberikan materi pengajaran kepada peserta didik.
Media pembelajaran digunakan sebagai alat bantu untuk mempermudah dan membantu tugas guru dalam menyampaikan berbagai bahan dan materi pelajaran, serta mengefektifkan dan mengefisienkan anak didik dalam memahami materi dan bahan pelajaran tersebut. Dengan adanya media pembelajaran, anak didik dapat belajar dengan mudah dan merasa senang dalam mengikuti pelajaran. Biasanya, anak didik dapat dengan mudah menangkap materi pelajaran bila pembelajaran yang diselenggarakan tersebut menyenangkan.
Umumnya media pembelajaran itu dikemas dengan cara yang menarik. Sedangkan penyajiannya disampaikan secara menarik dan disesuaikan dengan karakteristik anak didik. Sehingga anak didik akan dengan mudah mencerna pelajaran tersebut. Dengan demikian, tujuan pembelajaran pun akan tercapai dengan efektif dan efisien.
Pembelajaran Bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang penting diajarkan di sekolah-sekolah, Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia karena bahasa merupakan alat komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa, seseorang dapat menyampaikan ide, pikiran,  perasaan, atau info kepada orang lain, baik secara lisan maupun secara tulisan. (Iskandarwassid dan Sunendar, 2009:226).
Dalam menggunakan bahasa, manusia harus terampil. Ketrampilan berbahasa terdidri dari empat aspek, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Di sekolah dasar pun, siswa harus menguasai keempat aspek tersebut agak terampil berbahasa. Ketrampilan menyimak merupakan kegiatan yang paling awal dilakukan oleh anak manusia bila dilihat dari proses pemerolehan bahasa. Sebelum anak dapat melakukan berbicara, membaca, apalagi menulis, kegiatan menyimaklah yang pertama kali dilakukan.


B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian media ?
2.      Apa pengertian media pembelajaran?
3.      Jenis-jenis media pembelajaran?
4.      Fungsi media pembelajaran?
5.      Pembelajaran bahasa Indonesia?
6.      Konstribusi media pembelajaran bahasa Indonesia dalam meningkatkan pembelajaran.


C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penyusunan makalah ini diantaranya sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui pengertian media ?
2.      Untuk mengetahui Apa pengertian media pembelajaran?
3.      Untuk mengetahui Jenis-jenis media pembelajaran?
4.      Untuk mengetahui Fungsi media pembelajaran?
5.      Untuk mengetahui Pembelajaran bahasa Indonesia?
6.      Untuk mengetahui Konstribusi media pembelajaran bahasa Indonesia dalam meningkatkan pembelajaran.
















BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Media
Kata media dalam media pembelajaran secara harfiah berarti perantara atau pengantar, sedangkan kata pembelajaran diartikan sebagai suatu kondisi yang diciptakan untuk membuat seseorang melakukan kegiatan belajar. Dengan demikian media pembelajaran memberikan penekanan pada posisi media sebagai wahana penyalur pesan atau informasi belajar untuk mengkondisikan seseorang untuk belajar. Dengan kata lain, pada saat kegiatan belajar berlangsung bahan belajar (learning material) yang diterima siswa diperoleh dari media. Hal ini sesuai dengan pendapat Lesle J.Briggs (1979) yang menyatakan bahwa media pembelajaran sebagai “ the physical means of conveying instructional content..book, films videotapes, etc. Lebih jauh Briggs menyatakan media adalah “ alat untuk member  perangsang bagi siswa supaya terjadi proses belajar. Sedangkan mengenai efektifitas media, Brown ( 1970 ) menggaris bawahi bahwa media yang digunakan guru atau siswa dengan baik dapat mempengaruhi efektifitas proses belajar dan mengajar (Asra dkk, 2007 : 5-5 ).
Istilah media sering dibedakan dengan alat peraga, tetapi ada juga yang menganggap sama, sehingga satu benda terkadang disebut media tetapi juga disebut alat peraga. Sebetulnya perbedaan antara keduanya hanyalah pada fungsi, bukan pada substansi maupun bendanya sendiri. Sesuatu disebut alat peraga bila fungsinya hanya sebagai alat bantu belaka, dan disebut media bila merupakan bagian integral dari seluruh kegiatan pembelajaran, serta ada pembagian tanggung jawab antyara guru disatu pihak dan media di pihak lain ( Anitah 2008:12 ).
Istilah yang masih berkait dengan media adalah sumber belajar. Sumber belajar adalah orang yang dapat dijadikan tempat bertanya tentang berbagai pengetahuan ( Alwi, 2002 : 1102 ). Pengertian ini sudah tidak lagi sesuai dengan paradigma pembelajaran sekarang yang menggunakan sumber dari berbagai sumber belajar bukan tidak hanya berupa orang.




B.     Pengertian Media Pembelajaran
Istilah media pembelajaran berdekatan dengan istilah istilah yang lain, yaitu : sarana, prasarana, alat eraga, alat bantu dan sumber belajar. Istilah – istilah ini memang secara konseptual bisa dibedakan, tetappi didalam proses pembelajaran istilah-istilah ini sering memiliki pesan yang tumpang tindih bahkan sulit dibedakan. Kata media berasal dari Bahasa Latin yakni Medius yang secara harfiahnya berarti tengah, pengantar, atau perantara ( Munadi, 2008 : 6 ). Kata tengah berarti berada diantara dua sisi, maka bisa disebut sebagai perantara antar kedua sisi. Karena posisinya berada di tengah, media juga bisa disebut sebagai pengantar, penyalur, atau penghubung yakni yang m,enghubungkan atau mengantarkan atau menyalurkan dari satu sisi ke sisi yang lain. pendapat seperti ini juga dikemukakan oleh Bretz ( Dalam Anitah ,2008 : 10 ) Bahwa media adalah sesuatu yang terletak di tengah tengah, jadi suatu perantara. Berdasarkan pengertian ini, maka media dapat dikatakan sebagai perantara pesan. Berdasarkan beberapa pendapat itu dapat dikatakan, secara harfiah media adalah sesuatu yang mengantarkan pesan pembelajaran antara pemberi pesan kepada penerima pesan.
Beberapa definisi tentang media pembelajaran dipaparkan sebagai berikut :
1.             Media adalah grafik, fotografi, elektnonik atau alat – alat mekanik untuk menyajikan, memproses, menjelaskan informasi lisan atau visual ( Gerlach dan Ely dalam Anitah, 2008 : 11 ).
2.             Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan berlajar yang kondusif dimana penerimanya dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif ( Munadi, 2008 : 8 ).
3.             Media adalah setiap orang , bahan, alat, atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pebelajar untuk menerima pengetahuan, ketrampilan dan sikap ( Anitah, 2008 : 11 ).
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapatlah ditarik suatu simpulan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menjadi perantara pesan dalam proses belajar mengajar dari sumber informasi kepada penerima informasi sehingga terjadi prosese belajar yang kondusif. Kata media merupakan bentuk jamak dari kata medium. Medium dapat didefinisikan sebagai perantara atau pengatur terjadinya komunikasi dari pengirim menuju penerima ( Heinich et.al., 2002 ; Ibrahim, 1997 ; Ibrahim et.al., 2001 ). Media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan ( Crititos, 1996 ). Berdasarkan definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa media pembelajaran merupakan sarana pelantara dalam proses pembelajaran. Oleh karena prosesd pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsung dalam suatu sisitem maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen system pembelajaran. Tanpa media, komunikasi tidak akan terjadi dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bisa berlangsung secara optimal. Media pembelajaran adalah komponen integral dari sistem pembelajaran.
Batasan lain telah pula dikemukakan oleh para ahli yang sebagian diantaranya akan diberikan berikut ini. AECT (Association of Education and Communication Technology,1977) member batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. Diseamping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media yang sering diganti dengan kata mediator merunut Fleming (1987:234) adalah penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam dua pihak dan mendamaikannya. Dengan istilah mediator media menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antar dua pihak utama dalam proses belajar siswa dan isi pelajaran. Disamping itu, mediator dapat pula mencerminkan pengertian bahwa setiap sistem pembelajaran yang melakukan peran mediasi, mulai dari guru sampa kepada peralatanpalin canggih, dapat disebut media. Ringkasnya, media adalah alat yang menyampaikan atau mengantarkan pesan-pesan pembelajaran. Hamidjojo dalam Latuheru (1993) member batasan media sebagai semua bentuk perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide, gagasan atau pendapat sehingga ide, gagasan atau pendapat yang dikemukakan itu sampai kepada penerima yang dituju.
C.      Jenis-jenis  Media Pembelajaran
            Media pembelajaran banyak jenis dan macamnya. Dari yang palng sederhana dan murah hingga yang canggih dan mahal. Ada yang dapat dibuat oleh guru sendiri dan ada yang diproduksi pabrik. Ada yang sudah tersedia di lingkungan untuk langsung dimanfaatkan dan ada yang sengaja dirancang.
Berbagai sudut pandang untuk menggolongkan jenis-jenis media.
Rudy Bretz (1971) menggolongkan media berdasarkan tiga unsur pokok (suara, visual dan gerak):
1)      Media audio
2)      Media cetak
3)      Media visual diam
4)      Media visual gerak
5)      Media audio semi gerak
6)      Media visual semi gerak
7)      Media audio visual diam
8)      Media audio visual gerak
Anderson (1976) menggolongkan menjadi 10 media:
1)      audio                                             : Kaset audio, siaran radio, CD, telepon
2)      cetak                                              : buku pelajaran, modul, brosur, leaflet, gambar
3)      audio-cetak                                   : kaset audio yang dilengkapi bahan tertulis
4)      proyeksi visual diam                     : Overhead transparansi (OHT), film bingkai (slide)
5)       proyeksi audio visual diam           : film bingkai slide bersuara
6)      visual gerak                                   : film bisu
7)      audio visual gerak                         : film gerak bersuara, Video/VCD, Televisi
8)      obyek fisik                                                : Benda nyata, model, spesimen
9)      manusia dan lingkungan               : guru, pustakawan, laboran
10)  computer                                       : CAI

Schramm (1985) menggolongkan media berdasarkan kompleksnya suara, yaitu: media kompleks (film, TV, Video/VCD,) dan media sederhana (slide, audio, transparansi, teks). Selain itu menggolongkan media berdasarkan jangkauannya, yaitu media masal (liputannya luas dan serentak / radio, televisi), media kelompok (liputannya seluas ruangan / kaset audio, video, OHP, slide, dll), media individual (untuk perorangan / buku teks, telepon, CAI).

Henrich, dkk menggolongkan:
1)      media yang tidak diproyeksikan
2)      media yang diproyeksikan
3)      media audio
4)      media video
5)      media berbasis komputer
6)      multi media kit 

a.       Media Visual
1.      Media yang tidak diproyeksikan
a)      Media realia adalah benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media realia ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari keanekaragaman makhluk hidup, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, dan organ tanaman.
b)      Model adalah benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, pencernaan, pernafasan, peredaran darah, sistem ekskresi, dan syaraf pada hewan. 
c)      Media grafis tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Jenis-jenis media grafis adalah:
1)      gambar / foto: paling umum digunakan
2)      sketsa: gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan.
3)      diagram / skema: gambar sederhana yang menggunakan garis dan simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk mempelajari organisasi kehidupan dari sel samapai organisme.
4)      bagan / chart : menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal.
5)      grafik: gambar sederhana yang menggunakan garis, titik, simbol verbal atau bentuk tertentu yang menggambarkan data kuantitatif. Misal untuk mempelajari pertumbuhan.
2.      Media proyeksi
a)      Transparansi OHP merupakan alat bantu mengajar tatap muka sejati, sebab tata letak ruang kelas tetap seperti biasa, guru dapat bertatap muka dengan siswa (tanpa harus membelakangi siswa). Perangkat media transparansi meliputi perangkat lunak (Overhead transparancy / OHT) dan perangkat keras (Overhead projector / OHP). Teknik pembuatan media transparansi, yaitu:
ü  Mengambil dari bahan cetak dengan teknik tertentu
ü  Membuat sendiri secara manual
b)      Film bingkai / slide adalah film transparan yang umumnya berukuran 35 mm dan diberi bingkai 2X2 inci. Dalam satu paket berisi beberapa film bingkai yang terpisah satu sama lain. Manfaat film bingkai hampir sama dengan transparansi OHP, hanya kualitas visual yang dihasilkan lebih bagus. Sedangkan kelemahannya adalah beaya produksi dan peralatan lebih mahal serta kurang praktis. Untuk menyajikan dibutuhkan proyektor slide.
b.      Media Audio
1.      Radio
Radio merupakan perlengkapan elektronik yang dapat digunakan untuk mendengarkan berita yang bagus dan aktual, dapat mengetahui beberapa kejadian dan peristiwa-peristiwa penting dan baru, masalah-masalah kehidupan dan sebagainya. Radio dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang cukup efektif.
a.       Kaset-audio
Yang dibahas disini khusus kaset audio yang sering digunakan di sekolah. Keuntungannya adalah merupakan media yang ekonomis karena biaya pengadaan dan perawatan murah.

c.       Media Audio-Visual
1.      Media video
Merupakan salah satu jenis media audio visual, selain film. Yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran, biasa dikemas dalam bentuk VCD.
2.      Media komputer
Media ini memiliki semua kelebihan yang dimiliki oleh media lain. Selain mampu menampilkan teks, gerak, suara dan gambar, komputer juga dapat digunakan secara interaktif, bukan hanya searah. Bahkan komputer yang disambung dengan internet dapat memberikan keleluasaan belajar menembus ruang dan waktu serta menyediakan sumber belajar yang hampir tanpa batas.

D.    Fungsi Media Pembelajaran

Pada uraian tentang hakikat media pembelajaran sudah jelas dinyatakan bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai penyalur atau perantara pesan atau informasi dari sumber informasi sehingga siswa benar-benar dapat belajar secara optimal. Dengan demikian, fungus utama media adalah mempermudah siswa belajar dan tentu saja ini juga mempermudah guru dalam mengajar.
Munadi (2008:36) menyebutkan fungsi media pembelajaran yaitu:
1.      Media Pembelajaran sebagai Sumber Belajar
Fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai sumber belajar. Mudhofir (dalam Munadi,2008:36) menyatakan bahwa sumber belajar adalah komponen sistem instruksional dalam meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan yang mana hal itu dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Sumber belajar dapat dpahami sebagai segala macam sumber yang berada diluar diri siswa dan memungkinkan atau mempermudah siswa belajar.
2.      Fungsi Semantik
Fungsi semantic yang dimaksut adalah media berfungsi untuk menambah perbendaharaan kata symbol verbal sehingga makna atau maksutnya benar-benar dipahami (Munadi,2008:39). Kata merupakan struktur bahasa yang paing dasar. Kegiatan berkomunikasi dalam proses belajar mengajar menggunakan bahasa sebagai medianya. Oleh karena itu, pemahaman terhadap bahasa menjadi mutlak karena pesan atau informasi yang dipelajari siswa di kemas dalam bentuk bahasa. Media membantu siswa untuk memahami makna kata/bahasa yang digunakan sehinga makna kata/bahasa mendapat penafsiran yang benar.
Suatu kata terkadang merujuk pada suatu benda yang sangat konkrit,tetapi tidak lajang suatu kata atau bahasa merujuk pada peristiwa, sifat sesuatu, konsep, hubungan antar konsep, dan sebagainya. Apabila suatu kata merujuk pada suatu benda konkrit, misalnya: gunung, gajah, mobil, dan lain-lain, maka guru cukup membawa gambar atau menunjukkan benda aslinya dan menyebutkan namanya. Pemahaman siswa relative tidak menimbulkan salah tafsir akan tetapi, jika kata-kata itu merujuk pada peristiwa atau konsep yang sangat abstrak, misalnya: keimanan, akhlak, kepribadian, sifat, dan lain-lain. Akan sulit kalau guru hanya menjelaskan dengan bahasa verbal. Guru yang kreatif akan menggunakan media untuk menjelaskan konsep-konsep tersebut, misalnya dengan cerita menggunakan boneka.
3.      Fungsi Manipulatif
Fungsi manipulatif dimiliki media karena memiliki karakteristik umum yaitu mengatasi batas ruang dan waktu untuk mengatasi keterbatasan indrawi (Munadi,2008:41). Kemampuan media pembelajaran dalam mengatasi batas-batas ruang dan waktu terlihat dalam paparan berikut.
a.       Kemampuan media menjadikan objek atau peristiwa yang sulit dihadirkan dalam bentuk aslinya, misalnya: bencana alam, banjir, ikan paus melahirkan anak, dan sebagainya.
b.      Kemampuan media menjadikan objek yang panjang menjadi singkat, misalnya:proses metamorphosis, proses ibadah haji, dan sebagainya.
c.       Kemampuan media menghadirkan kembali peristiwa yang sudah terjadi.
Adapun kemampuan media pembelajaran dalam mengatasi keterbatasan inderawi terlihat pada kenyataan berikut.
a.       Media membentu siswa memahami objek yang sulit diamati karena terlalu kecil, misalnya:atom, sel, molekul, dan sebagainya.
b.      Media membantu siswa dalam memahami objek yang bergerak terlalu lambat atau terlalu cepat.
c.       Media membantu siswa dalam memahami objek yang membutuhkan kejelasan suara, misalnya: cara membaca Al-Quran yang benar.
d.      Media membantu siswa dalam memahami objek yang terlalu kompleks, misalnya: pertumbuhan penduduk, prosestase kelulusan di sekolah selama sepuuh tahun, dan sebagainya.
4.      Fungsi Psikologis
Munadi (2008:43) menyebutkan fungsi psikologis meliputi:
a.       Fungsi atensi karena media mampu meningkatkan perhatian siswa terhadap materi pembelajaran.
b.      Fungsi afektif karrena media mampu menggugah perasaan, emosi, dan tingkat penerimaan atau penolakan siswa terhadap sesuatu.
c.       Fungsi kognitif karena media ikut mengembangkan kognitif siswa yaitu siswa memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk representasi yang mewakili objek-objek yang dihadapi. Semakin banyak objek yang dihadapi semakin banyak gagasan atau pikiran yang dimiliki siswa.
d.      Fungsi imajinatif karena media mampu meningkatkan dan mengembangkan daya imajinasi siswa.
e.       Fungsi motivasi karena media mampu menimbulkan dorongan untuk berbuat atau melakukan sesuatu. Dengan media, guru mampu mendorong, mengaktifkan, dan menggerakkan siswanya secara sadar untuk terlibat secara aktif di dalam pembelajaran.
5.      Fungsi Sosio-Kultural
Fungsi media dilihat dari sosio-kultural adalah mengatasi hambatan sosio-kultural antara peserta komunikasi dalam pembelajaran (Munadi,2008:48). Siswa memiliki karakteristik yang bermacam-macam, apabila dihubungkan dengan kebiasaan, adat, keyakinan, lingkungan, dan sebagainya. Padahal pembelajarn secara klasikal selalu memberikan materi atau perlakuan yang sama kepada semua siswa di dalam satu kelas. Hal ini, sering menyulitkan guru dalam menyamakan persepsi, menyamakan perhatian, menyamakan penafsiran, dan sebagainya. Media pembelajaran dapat memberikan rangsangan yang sama, yang bisa dinikmati oleh siapa saja, sehingga memiliki pengalaman yang sama, sehingga menimbulkan persepsi yang sama.

E.     Pembelajaran Bahasa Indonesia
1.      Pembelajaran Bahasa Indonesia
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain,   mengemukakan   gagasan   dan   perasaan,   berpartisipasi   dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan   baik   dan   benar,   baik   secara   lisan   maupun   tulis,   serta menumbuhkan   apresiasi   terhadap   hasil   karya   kesastraan   manusia Indonesia.
2.      Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Sd
Bahasa   memungkinkan   manusia   untuk   saling   berkomunikasi, saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan untuk meningkatkan  kemampuan  intelektual  dan  kesusasteraan  merupakan salah satu sarana untuk menuju pemahaman tersebut. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu program yang bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa peserta didik, serta sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra Indonesia.
Tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD yaitu :
1.      Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis.
2.      Menghargai  dan  bangga  menggunakan  bahasa  Indonesia  sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara.
3.      Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
4.      Menggunakan  bahasa  Indonesia  untuk  meningkatkan  kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.
5.      Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan,  memperhalus  budi  pekerti,  serta  meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
6.      Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
Sedangkan  tujuan  pembelajaran  Bahasa  Indonesia  di  SD untuk aspek menulis adalah agar peserta didik memiliki kemampuan    untuk melakukan berbagai jenis kegiatan menulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dalam bentuk karangan sederhana, petunjuk, surat, pengumuman, dialog, formulir, teks pidato, laporan, ringkasan, parafrase, serta berbagai karya sastra untuk anak berbentuk cerita, puisi, dan pantun.
3.      Ruang Lingkup Bahasa Indonesia Di SD
Dengan  standar  kompetensi  mata  pelajaran  Bahasa  Indonesia  ini diharapkan:
a.       Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
b.      Guru  dapat  memusatkan  perhatian  kepada  pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
c.       Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan   dan   kesastraan   sesuai   dengan   kondisi   lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
d.      Orang   tua   dan   masyarakat   dapat   secara   aktif   terlibat   dalam pelaksanaan program kebahasaan daan kesastraan di sekolah;
e.       Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
f.       Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.

Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia ini kelompok kami mengambil Tema yaitu Tempat Umum dimana . Disini guru menjelaskan dahulu tentang materi yang akan disampaikan tentang pengertian paragraf, macam-macam paragraf, dan cara membuat paragraf. Sebelum membuat paragraf guru menyiapkan media yaitu gambar seri dimana siswa harus mengurutkan dahulu gambar tersebut, memahami gambar yang telah diurutkan dan membuat cerita sesuai dengan gambar dalam bentuk paragraf.
F.     Kontribusi Media Pembelajaran Bahasa Indonesia
Media pembelajaran dalam pembelajaran bahasa Indonesia sangat penting untuk menunjang keberhasilan dalam sebuah pembelajaran. Hal ini dikarenakan media berfungsi sebagai perantara atau penyalur informasi dari guru kepada siswa agar siswa dapat dengan mudah menerima pembelajaran yang diberikan oleh guru. Ada bermacam-macam media pembelajaran yang dapat mendukung proses pembelajaran bahasa Indonesia diantaranya :
1.      Media pembelajaran Puzzle
Puzzle merupakan permainan yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan anak dalam merangkainya. Puzzle merupakan kepingan tipis yang terdiri dari 2-3 bahkan 4-6 potongyang terbuat dari kayu atau lempeng karton. Dengan terbiasa bermain puzzle, lambat laun mental  anak  juga  akan  terbiasa  untuk  bersikap tenang,  tekun,  dan  sabar  dalam menyelesaikan sesuatu. Kepuasan yang didapat saat anak menyelesaikan puzzle pun merupakan salah satu pembangkit motifasi anak untuk menemukan hal-hal yang baru.
Dalam pembelajaran menggunakan games puzzle, memberikan manfaat siswa untuk berfikir secara nyaman melalui permainan untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan materi pelajaran yang masih dipelajari. Proses belajar memecahkan masalah diperlukan suatu pengamatan secara cermat dan lengkap. Kemudian untuk menjadikan permasalahan dapat membuat siswa tertantang menyelesaikannya memerlukan beberapa prinsip yang harus diperhatikan.
Manfaat Media Puzzle dalam Pembelajaran
a.       Meningkatkan keterampilan kognitif
b.      Meningkakan keterampilan motorik halus
c.       Melatih kemampuan nalar dan daya ingat dan konsentrasi
d.      Melatih kesabaran
e.       Pengetahuan melalui puzzle
f.       Meningkatkan keterampilan social


2.      Media Gambar
3.      Media Kotak Peran

4.      Media Mekameka (Mencari Kata Menyusun Kalimat)
Menyusun kata menjadi sebuah kalimat adalah materi umum dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD kelas tinggi. Secara konvensional, guru sering memulai dengan mengacak kata-kata yang ada dalam sebuah kalimat, selanjutnya menugaskan siswa untuk menyusun kembali menjadi kalimat yang benar. Cara ini juga dituntunkan dalam beberapa buku paket dan sangat sering muncul dalam soal semester atau ujian.
Kelemahan yang sangat jelas pada cara yang konvensional di atas adalah bahwa siswa kurang kreatif membuat kalimat dikarenakan kalimat yang harus dibuat adalah merupakan kalimat jadi yang hanya sekadar diacak kata-kata yang membentuknya. Sampai di sini tentu tak ada permasalahan yang terlihat jika guru hanya berpatokan kesanggupan siswa menyusun kata-kata acak tadi menjadi kalimat, apalagi jika hanya didasarkan kesanggupan siswa menjawab soal menyusun kata acak menjadi kalimat. Namun, persoalan akan muncul jika siswa diperhadapkan dengan beberapa kata acak yang tidak berasal dari kalimat jadi.
Media yang disebut Mekameka singkatan dari Mencari Kata Menyusun Kalimat dapat menjadi solusinya. Mekameka dibuat dari karton, bisa marmar atau dupleks, namun disarankan karton dupleks karena tebal dan masih bisa digulung. Karton dupleks bisa dibagi empat sama besar, selanjutnya dibuat garis horizontal dan vertical sehingga terbentuk 100 kotak. Setiap kotak diisi dengan sebuah kata dengan jumlah 90 kata. Sepuluh kotak yang tidak terisi dijadikan bantuan pada saat mekameka digunakan.

Pemanfaatan dan Hasil Mekameka
Mekameka dapat dijadikan media pembelajaran sekaligus alat permainan dan perlombaan sehingga dapat dikatakan three in one. 90 kata yang tersedia akan dipilih oleh siswa dengan melempar dadu seperti layaknya permainan monopoli. Siswa akan menulis kata yang dipilihnya dan apabila siswa memilih kotak yang kosong, maka kesempatan untuk memilih kata sendiri. Setelah siswa dan lawan mainnya memilih beberapa kata dan merasa telah dapat menyusunnya menjadi kalimat, maka siswa membuat kalimat yang memanfaatkan sebanyak-banyaknya kata yang telah dipilihnya.
Siapa yang paling benar kalimatnya dan paling banyak memanfaatkan kata yang telah dipilihnya, maka dialah yang menjadi pemenangnya. Kondisi inilah yang dapat menjadikan kelas menjadi hidup dan bergairah. Proses pembelajaran tetap berjalan dengan baik sementara siswa bermain dan berkompetisi. Mekameka dalam aplikasinya dapat bermain individu maupun kelompok, sehingga dengan satu  karton dupleks saja dapat menghasilkan 4 buah mekameka sehingga dapat merangkum semua siswa untuk bermain dan berkompetisi.
Mekameka membuat siswa kreatif menemukan kata-kata yang dapat dijadikan kalimat. Siswa belajar dengan ceria karena mengandung unsur permainan dan kompetisi. Selain itu, mekameka dapat dimanfaatkan di luar kelas bahkan dipinjamkan siswa ke rumah untuk dijadikan sarana bermain yang mendidik dan kreatif.

Dilihat dari macam-macam media pembelajaran yang mendukung proses pembelajaran bahasa Indonesia kami memilih media pembelajaran “Kotak Peran” yang akan mempermudah siswa dalam menerima pembelajaran pada tema yang telah kami pilih yaitu Tempat Umum,  dimana menurut kami dengan  menggunakan media pembelajaran kotak peran ini dapat mempermudah anak dalam menerima materi yang diberikan oleh guru dan media pembelajaran tersebut sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yaitu :
Standar Kompetensi :
1.      Mendengarkan
Memahami  penjelasan tentang petunjuk dan cerita anak yang dilisankan.
2.      Berbicara
Mengungkapkan pikiran, perasaan,  pengalaman, dan petunjuk dengan bercerita, dan memberikan tanggapan atau saran.
Kompetensi Dasar :
1.1  Melakukan sesuatu berdasarkan penjelasan yang disampaikan secara lisan.
2.1 Menceritakan pengalaman yang mengesankan dengan menggunakan kalimat yang runtut dan mudah dipahami.
Berdasarkan standar kompetensi  dan kompetensi dasar tersebut maka dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia, media pembelajaran yang digunakan adalah Kotak Peran dimana penggunaan media pembelajaran tersebut adalah :
1.       







Tidak ada komentar:

Posting Komentar